Search

Co-Energy, Bio-diesel dari Minyak Jelantah Mulai Dikembangkan Anak Muda di Sulawesi Barat

Mamuju, 09 Juni 2022


Rodrick Kristianturi, Founder Co-Energy


Perubahan Iklim dan Krisis Energi merupakan salah satu tantangan pembangunan yang tidak bisa dihindari di masa depan. Ketersediaan energi fosil yang terbatas dan dampak yang dihasilkan energi tak terbarukan menyebabkan kerusakan serius pada lingkungan, khususnya perubahan iklim. Co-Energy hadir sebagai solusi untuk ketersediaan energi khususnya Biodiesel di masa depan. Bersama Macanga Institute, Co-Energy siap membantu menjawab tantangan ketersediaan energi dengan memanfaatkan dan mengolah limbah minyak jelantah menjadi Biodiesel pengganti solar.


Co-Energy diprakarsai oleh Rodrick Kristianturi. Ketika masih berada di bangku perkuliahan Odi sapaan akrabnya tertarik dengan hal-hal yang berkaitan dengan energi. Odi mulai serius melakukan riset mengenai Biodiesel dan mengambil judul tugas akhir “Prospek Aplikasi Biodiesel Untuk Sektor Transportasi Darat yang Berkelanjutan di Sulawesi Selatan”. Semasa perkuliahan Odi juga aktif di berbagai kegiatan sosial dan pengembangan kepemimpinan. Ia pernah mendapat beberapa penghargaan seperti beasiswa Teladan dari Tanoto Foundation dan finalis dari kompetisi paper nasional yang diadakan oleh Institut Teknologi Bandung.


Co-Energy dimulai setelah terjadi komitmen dengan Macanga Institut sebagai NGO yang fokus pada isu pembangunan berkelanjutan di Sulawesi Barat. Co-Energy dimulai oleh dua orang yaitu Odi dan Hardiyanti Hamrullah. Hardiyanti merupakan rekan kerja yang berlatar belakang sebagai Analis Kimia. Co-Energy Project berjalan di bawah naungan Macanga Institute dalam melaksanakan kerja-kerja nya di masyarakat. Khaerunnisa Nurul dan Novita Citra Rahayu kemudian bergabung untuk melengkapi kurangnya peronil dan menjadi bagian tim yang memoerkuat Co-Energy


Studi Co-Energy dan Macanga Institute dengan Nelayan Kayumate


Co-Energy mulai membangun pemahaman akan kebutuhan Biodiesel setelah berdiskusi dengan nelayan lokal di Mamuju. Ada begitu banyak tantangan nelayan dalam menjalankan pekerjaannya sehari-hari termasuk ketersediaan bahan bakar. Di komunitas kampung nelayan Kayumate yang menjadi masyarakat sasaran pertama sebagian besar menggunakan bensin untuk kapal-kapal mereka. Tim yang dipimpin oleh Odi kemudian mencari alternatif komunitas lain dan menemukan satu komunitas kampung nelayan di Kabupaten Mamuju di Desa Sumare. Berdasarkan hasil penelitian lapangan, terdapat beberapa masalah terkait ketersediaan solar seperti seringnya terjadi kelangkaan dan harganya yang relatif mahal. Odi menyimpulkan bahwa warga Desa Sumare cocok untuk dijadikan sebagai lokus Co-Energy project. Kepala Desa dan Aparat Desa sangat antusias membantu project ini sebab banyak kendala yang dihadapi mereka terkait ketersediaan bahan bakar. Setelah dilakukan uji coba, produk biodiesel Co-Energy menuai pujian dari aparat dan warga Desa Sumare. Mereka berkomitmen ingin bekerja sama mengembangan produk ini sehingga dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif di Desa Sumare, Mamuju.


Percobaan Biodiesel dengan Nelayan Sumare, Mamuju


Saat ini, Co-Energy berfokus pada kemitraan dan mengumpulkan semua minyak jelantah sebagai bahan baku utama biodiesel. Mengumpulkan semua minyak jelantah dari berbagai jenis usaha seperti warung makan, perhotelan, usaha mikro kecil menengah, dan rumah tangga merupakan tantangan besar yang sedang dihadapi. Minyak jelantah dalam jumlah yang besar dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar nelayan di Kabupaten Mamuju dan Desa Sumare pada khususnya. Tidak menutup kemungkinan bahwa Co-Energy akan berkembang mengingat banyaknya sektor yang menggunakan mesin diesel seperti transportasi, pertanian, perkantoran, perdagangan dan jasa, dll.

96 views0 comments